Microtuner…

>> Rabu, 16 September 2009


Ever had this problem? You've just spent 15 minutes carefully selecting and mounting a reed on your mouthpiece. With great care you position it just right and it blows like a dream. Five minutes into the gig and you're blowing a little sharp...so you reach up to the mouthpiece to pull it off a little...and disaster strikes. The ligature slips, the reed skews and in your desperate rush to replace the reed you end up chipping the tip and ruining it. Wouldn't it be handy to be able to adjust the tuning without having to wrestle with the mouthpiece and its delicate reed?

Ya, begitulah ide pemikiran yang mendasari dikembangkannya microtuner, piranti yang ada di bagian ujung neck saxophone untuk menyetel maju mundurnya posisi mouthpiece. Pengembangnya antara lain perusahaan CG. Conn, Julius Keilwerth, dll.

Read more...

SAXOPHONE DIJUAL


CONN NAKED LADY KONDISI BAGUS, ANTIK, MULUS SEPERTI YANG DIPAKAI CHARLIE PARKER, KONDISI LENGKAP TAS DLL, HARGA Rp 12.000.000,00 HUBUNGI DIDIT 08158882191 (021)94108231

Read more...

Not pertama, do,lalu re dst

Dulu ketika saya SD, pak guru dengan telaten mengajari not do re mi. Selalu, setiap belajar lagu, not angkanya dulu yang dinyanyikan. Murid sekelas beramai ramai menyanyi dengan menyebut not2 angka itu. Setelah tahu bagaimana lagunya, setelah kita bisa berlagu, baru kemudian lagu itu diberi kata2, dikata katai. Gurunya sih biasa saja, tapi itu lho, cara mengajarnya saya suka.

Ada pula ketika itu kegiatan extra kurikuler yaitu drum band. Saya kebagian pegang belira, yaitu alat musik sebangsa gambang, mainnya dibopong sambil dipukuli. Alat itu inventaris milik sekolahan, tidak bisa dibawa pulang. Apa boleh buat, dirumah terpaksa latihan menggunakan simulator, menggunakan alat bantu, yaitu orek2 an gambarnya, gambar belira dikertas bekas koran.

Belira asli tidak bisa dilipat lipat, tapi yang ini bisa. Lha wong cuma gambar dikertas, jadi ya bisa dilipat dan di untel2. Tiap ada kesempatan untelan kertas dibuka lebar, digelar, siap dipakai untuk latihan, pra pagelaran.

Lantaran yang dipukuli atau ditabuh bukan benda yang sebenarnya, tapi cuma gambar, maka bunyinya ya cuma klothak klothek gitu, tidak berbunyi ting tang ting tong sebagaimana belira aslinya. Begitupun hati ini sudah seneng ngudhubilah.

Demi suksesnya latihan, mulut inilah yang kemudian mewakili bunyi notasinya. Sol mi, re do re do, sol la si do si la sol si..., dst. Lagu "Halo2 Bandung" dibunyikan notnya saja, tanpa kata2..., tanpa sesumbar.

Terbiasa dengan cara begitu akhirnya benak ini dapat merekam otomatis, not2 solmisasi setiap lagu. Ya, otomatis saya bisa mengenal solmisasinya tak peduli apa judul ataupun syair lagu itu.Bahkan suara sepatu kuda pun terdengarnya bukan lagi duk tik dak tik duk, melainkan do mi sol mi do..., gitu.

Itu semua terjadi dulu kala, ketika teh manis belum model dibotoli, dan ketika semua ayam masih kampungan belum ada ayam negri; ketika saya masih suka kluyuran nonton panggung hiburan di pasar malem Sekatenan.

Gitu deh...

Read more...

Karet gelang …, juru selamat, pengusir setan

>> Sabtu, 09 Mei 2009

Begini lho, kita itu khan punya pikiran positip dan negatip dalam setiap tindakan. Misalnya ketika pikiran positip bilang:" Yuk kita mulai kerja", si pikiran negatip ngomong: "Ah, ntar aja. Lagi enak kongkow2 nih.."

Kedua pikiran itu, positip dan negatip sama kekuatannya. Jadi kadang si positip menang, kadang si negatip yang menang. Lha kalau kekuatan mereka seimbang, bagaimana kiatnya agar pikiran positip bisa selalu menang?

Nah, di sinilah karet gelang berperan. Caranya, setiap kali si setan atau pikiran negatip melintas di benak, jepretkan karet gelang merah yang ada di pergelangan tangan kiri kita. Lakukan begitu, setan lewat..., jepret pergelangan tangan kita. Setan lewat lagi..., jepret lagi, begitu seterusnya. Lama2 bawah sadar kita akan merekamnya sebagai sesuatu yang harus dihindari, karena kalau tidak, tangan kita bakal kejepret dan…, sakit lah yauw.

Silahkan dicoba. Awalnya pasti deh akan banyak garis merah di tangan gara2 kena jepret melulu, saking banyaknya setan lewat, saking banyaknya pikiran negatip di benak. Dan pikiran negatip itu misalnya: malas, menunda nunda, malu malu, curiga, ragu ragu, sombong, minder, cemburu, takut, iri, dendam, cuek, pesimis, marah, berprasangka, meremehkan dan masih banyak lagi…

Jurus mengusir setan dengan jepretan karet gelang ini cukup jitu lho. Setan malas dsb..., ngacir!

Tidak hanya itu, karet gelang bisa juga jadi juru selamat. Saya punya pengalaman yaitu saat saxophone yang sedang saya mainkan tiba2 mengalami trouble, putus pernya. Untung saja ada karet gelang. Jadilah si karet gelang itu untuk sementara berperan sebagai pengikat sekaligus menggantikan fungsi per yang putus. Ya, berkat jasa si karet gelang, saxophone bisa ngeper lagi dan permainan bisa terus berlanjut. Bayangkan kalau tidak, wah..., berabe.

Hidup karet gelang!!!
Gitu deh…

sumber http://tinasaxophone.blogspot.com/

Read more...

Daftar Pabrik Saxophone Jaman Dulu

>> Jumat, 24 April 2009



Inilah daftar nama beberapa para pembuat saxophone di masa lalu yang bisa kita catat. Di luar daftar ini barangkali saja masih ada. Kalau ada yang mengetahuinya, silahkan menambahkannya ke dalam daftar.

Beberapa produk saxophone buatan mereka saat ini ada (ataupun pernah ada) dalam koleksi kita (dan semuanya saya dapatkan di Indonesia), di antaranya merek2:
Adolphe Sax, Buffet Crampon, Rampone, Hawkes, Gras. J., Conn C.G., Dolnet, Kessel Matthias J.H., Couesnon, Henri Selmer, Buescher, Romeo Orsi, Leblanc, Holton, Keilwerth, King Instrument, Amati, Boosey & Hawkes.

Tambahan lain adalah merek: Stentor, SML, Hammerschmidt (Ah, susah amat nulisnya...)

Read more...

Small, Medium, Large...


Ukuran clarinet ini, dan juga alat musik tiup lainnya seperti saxophone dsb., ada bermacam macam. Ada ukuran S,M,L,XL,double X bahkan triple X (kayak ukuran baju aja).

Gitu deh, ee..., gitu loh.

Read more...

Tombol nada Bassoon


Bayangkan, ketika jempol kita yang semata wayang ini harus mengurusi segitu banyak tombol. Pasti repot dah...

Ya, itulah tombol2 nada pada alat musik tiup Bassoon atau Fagot. Pada Bassoon justru jempol yang lebih berperan daripada jari2 lain untuk mengatur tombol2 nada. Ini berbeda dengan pengaturan nada pada saxophone. Pada saxophone, jempol silahkan istirahat saja di thumb rest.

Gitu deh...

Read more...

Jazz, Java Jazz, Jak Jazz, JogJazz dan saxophone

>> Sabtu, 18 April 2009


Sudah biasa saxophone itu dikaitkan dengan musik jazz, java jazz, jak jazz, jogjazz dsb. Tapi apa sih arti kata Jazz itu sebenarnya? Apa itu sejenis kata umpatan semacam sontoloyo, hajinguk, ataupun dian**k?

Piye Jal?

Read more...

SAX SLOKI, DUA SLOKI…

Main saxophone di bar hotel. Oleh bertender yang “kesengsem” biasanya disuguhi aneka minuman ala bar. Pulang-pulang kepala ngrasa agak "NGGLIYENG", seperti malam ini. Sekedar nggliyeng saja alias bumi serasa goyang, tapi tidak pernah sampai mendem beneran. Tidak sampai mabuk beneran, soalnya selalu ingat pesan simbah soal rahasia "ngombe ngombe atawa minum-minum".

Minum 1 sloki disebut EKA PADMA SARI. Efeknya: sumringah. Koyo kembang teratai lagi mekar, seperti bunga teratai sedang mekar.
2 sloki, disebut DWI AMARTA..., berefek lebih sumringah.
3 sloki, disebut TRI KAWULA BUSANA..., ngisin-ngisini, koyo batur dinggoni sandangan anyar, malu-maluin kayak bedinde dikasih baju baru.
4 sloki, disebut CATUR WANARA RUKEM, koyo ketek weruh woh2 an, seperti monyet ngliat buah2an.
5 sloki, disebut PANCA SURA PANGGAH, ngumbar wani, nantang sopo wae, ngajak duel siapa saja berlagak jagoan.
6 sloki, disebut SAT GUNA WIWEKA, krungu wong muji rumongsone ngrasani, denger orang memuji, dikira mencela.
7 sloki, SAPTA KUKILA ARSA, njedindil..., koyo manuk kudanan, kuyu gemeter kayak burung kehujanan.
8 sloki, disebut ASTA CECARA CARA, alias ngomyang., ngomel sendirian kagak keruan.
9 sloki, disebut NAWA GRA LUPA, lupa diri, lemes tanpo doyo.
10 sloki, disebut DASA BUTA MATI, nggletak koyo wong mati ning medeni, menakutkan.

Simbah bilang, yen ngombe yo ngombe nanging ora pareng akeh-akeh, minum ya minum tapi jangan banyak2.
.
Yaaah..., tadi sempat nenggak 4 sloki. Jadinya saya kok kayak woh2 an weruh ketek, kayak buah2an ngliat monyet ya...

Read more...

Double Reed...


Harga reed tergolong tidak murah, apalagi double reed yang dipakai oleh oboe dan bassoon seperti ini. Padahal di sononya, material pembuat reed itu, yakni tanaman Arundo Donax, biasa juga dibuat jadi barang kerajinan seperti keranjang ataupun topi pak tani yang tentu saja harganya..., tidak seberapa.
Ah, coba ya kita bisa membuatnya sendiri dari..., bambu. (Asal jangan tebu...)

Read more...

Saxophone reed...


Reed saxophone, clarinet, oboe, fagot dsb. dibuat dari buluh perindu (Arundo Donax). Pohonnya kayak di gambar ini. Saxdulur jangan mengira itu batang tebu lho. Kalau tebu lha teneh bukannya ditiup tapi ntar malah disesep-sesep....

Read more...

Sax saxe...


Sungguh saya tidak bisa memahami, ide apa yang ada dibalik penciptaan bemper/key guard dari bahan plastik ini. (Guard yang semestinya berfungsi melindungi, e.., ini malah harus dilindungi saking rapuh dan ringkihnya. Lha wong dibikin dari plastik yang gampang pecah...)

Read more...

Ini Cornet, bukan Trumpet...


Kata Cor atau Cornu dalam bahasa latin berarti horn atau tanduk kerbau. Bugle atau buculus dalam bahasa latin artinya kerbau muda alias gudel dalam bahasa Jawa.

Sosok cornet, demikian kita biasa menyebutnya, meskipun modelnya nyaris sama dengan trumpet, namun terlihat lebih gemuk dan lebih mengerucut. Suaranya terdengar lebih dalam dan lembut. Bugle atau cornet sudah dikenal sejak jaman purba, dipakai sebagai alat komunikasi jarak jauh. Di abad pertengahan, bugle yang terbuat dari metal mulai dipakai di kemiliteran, sebagai aba-aba apel pagi siang dan malam. Pada tahun 1810 Joseph Holliday dari Irlandia menerapkan sistem piston pada bugle cornet. Orang bilang, si bogel, bukan bugil, lebih mudah dimainkan dibanding trumpet. Gitu...

Read more...

Ini Saxhorn atau knalpot?


Saxhorn yang ini mempunyai model corong bukan menghadap ke arah depan ataupun arah ke atas, melainkan ke... belakang! (Persis posisi knalpot sepeda motor). Mengapa begitu? Tujuannya agar kelompok pasukan yang berbaris di belakang marching band itu (saxhorn dipakai untuk marching band militer) dapat mendengar dengan lebih jelas...

Read more...

Desafinado..., not angka


Inilah not angka dari lagu Desafinado buah karya Jobim yang dibawakan oleh Stan Getz dengan saxophone tenornya. Kita bisa mempelajari lagu itu lewat not2 angka itu. Setelah kita nanti sungguh2 mengenal dan hafal alur melodi lagu Desafinado itu, baru kemudian kita dapat memainkan dengan penuh gaya, dengan berimprovisasi bagai Stan Getz. Silahkan dimainkan dengan saxophone tenor, alto ataupun sopran di nada dasar G.

Gitu deh...

Read more...

YUK, BERMAIN SAXOPHONE

>> Senin, 13 April 2009

Melihat sosoknya, sepertinya susah untuk dimainkan. Berat dan rumit, serta butuh napas yang panjang. Tapi kesan pertama sering menipu. Bermain saxophone ternyata mudah dan bisa dilakukan sambil cengar-cengir.

Meski termasuk keluarga alat musik tiup kayu, tapi jarang dijumpai saxophone yang terbuat dari kayu. Saxophone dibuat dari kuningan

Melihat sosoknya, sepertinya susah untuk dimainkan. Berat dan rumit, serta butuh napas yang panjang. Tapi kesan pertama sering menipu. Bermain saxophone ternyata mudah dan bisa dilakukan sambil cengar-cengir.

Meski termasuk keluarga alat musik tiup kayu, tapi jarang dijumpai saxophone yang terbuat dari kayu. Saxophone dibuat dari kuningan mengingat sifatnya yang mudah dibentuk. Ada banyak macam saxophone, ada yang lurus seperti yang ditiup Kenny G., ada pula yang melengkung kayak yang dimainkan Dave Koz atau almarhum Embong Rahardjo.

Cara memainkan alat ini sederhana saja, modalnya juga cuma do-re-mi. Makanya, dapat dikatakan saxophone lebih mudah dipelajari dan dimainkan dibandingkan dengan alat musik tiup lainnya macam flute, oboe, clarinet, atau fagot.

Aslinya, suara saxophone itu halus dan lembut, sesuai dengan orkestra zaman itu. Namun, berhubung dalam perkembangannya dipakai sebagai pengiring musik dansa yang ingar bingar, mau tak mau saxophone harus ikut berteriak juga agar bisa didengar. Untuk itu lalu dilakukan modifikasi dengan membuat mouthpiece, sumber bunyi pada saxophone, menjadi lebih ramping dan lancip. Hasilnya, suaranya menjadi lebih keras, lebih wah tidak sekedar weh.

Dalam perkembangannya, saxophone kemudian menjadi alat musik utama pada musik jazz. Tokoh-tokoh yang berkecimpung di situ bisa disebut misalnya John Coltrane, Charlie Parker, dan Steve Lacey. Sekarang alat musik tiup ini sudah menjadi bagian dari hampir setiap musik, mulai dari pop sampai dangdut.

Sambil nyengir, oke saja
Berbeda dengan tuts piano yang dapat menjangkau banyak nada, mulai dari do paling rendah hingga do paling tinggi alias beroktaf-oktaf, saxophone hanya mampu menjelajah beberapa oktaf. Makanya, ia pun dibuat dalam berbagai ukuran demi menghasilkan nada selengkap piano. Jadilah saxophone ukuran S, M, L, XL, double X, dan bahkan triple X. Pokoknya, mirip ukuran baju. Namun, pembagiannya bukan seperti itu, lebih merujuk ke jenis suara.

Wilayah nada tinggi diwakili saxophone mini, sedangkan untuk nada rendah menjadi urusan saxophone berukuran panjang dan besar. Total semua macam saxophone ada 14. Semuanya - kalau mau - dapat dimainkan bersama, ada yang kebagian suara sopran, alto, tenor, bariton, bas, maupun kontra bas.

Dari 14 macam itu, yang sering santer disebut adalah saxophone sopran, alto, dan tenor. Yang sopran bentuknya lurus seperti yang dipakai Kenny G. Sedangkan golongan alto bentuknya sedikit melengkung seperti huruf "J". Jenis ini biasa ditiup oleh Dave Koz. Di atas alto ada saxophone tenor, dan biasa disebut saxophone jazz. Yang lebih besar lagi, saxophone bariton. Saking berat dan besarnya, bagian bow atau bell-nya jadi sering rusak.

Sebelum kebingungan dengan istilah di seputar saxophone, ada baiknya kita telanjangi dulu "bodi" saxophone yang seksi itu. Bentuknya mengerucut mirip belalai gajah. Ukurannya mulai dari 1,5 m sampai lebih dari 5 m. Berhubung besar dan panjang, supaya enak dipakai dan tidak kedodoran, maka perlu diringkas. Bagian ujung dan pangkalnya ditekuk sehingga hasilnya mirip cangklong, pipa untuk merokok.

Di sekujur tubuhnya banyak "bopeng". Lho, tidak seksi lagi dong? Ya, mau apalagi, sebab tanpa "bopeng-bopeng" itu saxophone tidak bisa bunyi. "Bopeng" yang berupa lubang menganga itu dipasangi tutup yang bisa dibuka-tutup. Tutup-tutup lubang itu ada yang dirangkai sehingga dapat menutup bersamaan.

Anatomi saxophone dapat disebut mulai dari atas: mouthpiece yang diemut sewaktu memainkannya, neck tempat memasang mouthpiece, main body tempat lubang-lubang tadi berada, bow yang berbentuk mirip huruf "U", dan bell yang mirip tabung dengan ujung kayak corong. Pada main body sebelum bow ada kait terbuat dari metal atau plastik tempat ngasonya jempol sehingga diberi nama thumbrest. Beberapa senti di atas thumbrest ada strap ring, tempat cantelan strap neck.

Seperti mimi dan mintuno, begitulah mouthpiece dan reed. Saxophone berbunyi hanya jika mouthpiece ditiup. Mouthpiece ini ceper, mirip paruh bebek cerewet, Donal. Bahannya bisa kayu, metal, atau ebonit. Sedang reed terbuat dari bahan rotan yang diiris tipis, ditempelkan di sisi bawah mouthpiece dan diikat kencang dengan ligature. Besar kecil mouthpiece mengikuti ukuran saxophone. Jika kecil, kita masih bisa meniupnya di sudut bibir sehingga masih dapat bersaxophone sambil nyengir. Kalau saxophone nya gede, mouthpiecenya bisa segemuk pisang ambon. Ampun dehl

SATU LUBANG SATU TUTUP
Untuk sampai ke mouthpiece dan reed yang bermacam-macam itu perlu ratusan tahun. Sebelum ada saxophone, alat musik tiup menghadapi kendala amat berat, yaitu bagaimana membuat alat musik tiup yang mampu bersuara rendah dan mudah dimainkan. Memang, untuk memainkan nada rendah diperlukan sebuah alat yang besar dan panjang. Nah, persoalannya, jempol dan jari yang akan mengoperasikan alat itu langsing, pendek, dan tidak bisa melar seenaknya. Jadi, Jaka Sembung makan kedondong, enggak nyambung dong!

Ambil contoh suling bambu yang sering dipakai mengiringi Inul Daratista saat ngebor itu. Bambu sekerat yang diberi enam lubang itu bisa memainkan nada do-re-mi karena lubang kecilnya itu ditutup dan dibuka menggunakan jari. Karena letaknya berdekatan, jari-jari kita pun dengan lincah menari-nari sambil menghasilkan tangga nada.
Sayangnya, karena keterbatasan bentuk dan lubang, setiap ganti nada dasar, suling juga harus diganti. Jadilah kita mengenal suling yang besar, agak besar, pendek, dll. Tak hanya suling, tapi juga clarinet, oboe, basoon, dll., merupakan alat musik zaman baheula yang masih berorientasi pada lubang yang sekedarnya. Sekedar ada lubang yang pas dengan jari.

Karena berkutat hanya pada lubang yang sempit, problem bagaimana membuat lubang yang besar tidak terpikirkan. Paling-paling kalau ingin membuat alat yang agak besar, alat itu kemudian dilengkungkan seperti busur sehingga tetap dapat diraih oleh tangan. Mau yang lebih besar lagi, sudah tidak berdaya, sudah apa daya tangan tak sampai.

Ada sih sedikit kemajuan, dengan ditambahkannya lubang serta tangkai-tangkai untuk membuka dan menutup lubang yang berada di luar jangkauan jari. Satu tangkai disiapkan untuk satu lubang tambahan itu. Jempol dan kelingking dilibatkan untuk menanganinya. Nada yang dihasilkan memang bertambah banyak, namun lubang sempit itu masih saja tidak terpikirkan untuk dibesarkan.

Sampai suatu saat ketika suling salin rupa menjadi flute. Seseorang telah membuat lubang berjumlah banyak dan berjejer. Lubang itu besar, sampai besarnya jari tidak dapat menutupinya sehingga perlu tutup khusus. Nah, ujung jari tinggal menekan tutup ini sehingga lubang pun tertutup. Dibuat pula sistem rangkaian yang memungkinkan dua atau tiga tutup bisa menutup dengan hanya menekan satu tutup. Sebuah awal yang bagus, meski belum ada yang mencoba membesarkan alat musik tiup.

Akhirnya, Adolphe Sax dari Belgia mengatasi kebuntuan itu dengan membuat sistem satu lubang satu tutup. Alat itu dipatenkan dan diproduksi massal tahun 1846. Namanya pun di ambil dari namanya sendiri yaitu sax-o-phone.

DITIUP, JANGAN DIEMUT
Tidak seperti yang terlihat, ternyata nyaxophone (main saxophone) cukup mudah. Beda dengan alatnya yang njlimet dan penuh tombol. Benda ini kalau sudah dipegang seolah-olah lekat di tangan, sangat melekat. Kalau sudah begitu, saxophone pun nurut saja. Mau ditiup lirih dia lirih dihembus keras dia lepas suaranya. Tidak ditiup, ya diam saja.

Saxophone dapat pula menjadi penutup bagi mereka yang memiliki suara - maaf - tidak meng-"Indonesian Idol" atau meng-"AFI". Dengan saxophone kita dapat bernyanyi dengan penuh gaya tanpa dituntut untuk keluar suara. Mau gaya ngebor, ngecor, ataupun nyosor, terserah saja.

Karena hanya bermodalkan do-re-mi, maka dari mendengar lagu di teve saja kita sudah dapat menirukannya dengan persis plek. Dengan meniru saja sudah bisa, apalagi kalau paham not angka. Mahir dahl Makanya, bagi yang buta not balok tak perlu minder. Itu bukan halangan buat meniup saxophone dengan benar.

Tak perlu gemetar ataupun gentar memeluk saxophone. Pegang saja bodinya, tangan kiri di sebelah atas, tangan kanan di sebelah bawah. Kedua jempol dikandangkan saja di thumbrest, sedangkan jari lainnya di atas tombol yang sudah disiapkan.

Setelah semua jari ada di tempatnya, mulailah tekan tombol key. Tekan satu-satu mulai telunjuk kiri, berikutnya jari tengah, dan jari manis. Lanjutkan dengan tangan kanan, dari telunjuk dan berakhir di kelingking. Sekarang lepaskan tekanan satu per satu mulai dari bawah ke atas, bolak-balik. Tekan, lepas, tekan, lepas, dan seterusnya. Tuh, ... sudah bisa 'kan?

Saking mudahnya, kita bisa berpantomim dulu dengan membayangkan memegang saxophone kalau sudah kebelet main tapi belum punya. Lalu lantunkan lagu Song Bird atau Havana.
Kalau saxophone sudah di tangan, pelajaran pertama adalah meniup mouthpiece. Tut-tuuuttt ..., begitu kira-kira cara meniupnya. Agar bisa bunyi, mouthpiece harus ditiup, jangan cuma diemut. Posisinya juga jangan sampai terbalik, sebab bibir akan terasa geli. Yang lihat pun ikut-ikutan geli.

Selamat bersaxophone!

Read more...

Saxophone bekas…, coba dulu baru beli.

Beberapa waktu lalu di chat room kita ada orang yang menawarkan saxophone bekas (seken). Kemudian ada tanggapan dari beberapa orang lainnya yang tertarik ingin membelinya. Telephone dan SMS pun berdering di nomer saya, menanyakan perihal saxophone bekas itu, baguskah, murahkah atau mahalkah dst, dsb, dll.

Lha karena saxophone bekas yang dimaksud itu bukan milik saya, dan sayapun belum melihat barangnya, maka saya tidak bisa omong banyak.

Beberapa waktu lalu di chat room kita ada orang yang menawarkan saxophone bekas (seken). Kemudian ada tanggapan dari beberapa orang lainnya yang tertarik ingin membelinya. Telephone dan SMS pun berdering di nomer saya, menanyakan perihal saxophone bekas itu, baguskah, murahkah atau mahalkah dst, dsb, dll.

Lha karena saxophone bekas yang dimaksud itu bukan milik saya, dan sayapun belum melihat barangnya, maka saya tidak bisa omong banyak. Lain soal kalau saya sudah melihat, memeriksa dan mencoba memainkan benda itu, saya pasti akan tahu dan bisa menilai kondisinya dsb.

Memang mengurusi saxophone bekas itu tidak sederhana, ada banyak hal yang perlu dilakukan di antaranya: memulihkan kondisinya, membuatnya agar bisa berfungsi lagi secara prima. Kondisi prima artinya ditiupnya enak, tidak ada klep2 nya yang rusak atau bocor, tidak ada per2 nya yang patah, tidak ada ganjel2 nya yang copot. Tampilannya juga mesti bersih dan mulus lagi, tidak ada lagi bagian2 yang penyok dsb.

Mouthpiecenya juga harus enak, kalau perlu diganti dengan mouthpiece baru karena yang lama sudah usang atau rusak atau malah bisa jadi kagak ada. Begitu juga tasnya, mungkin perlu diganti tas baru yang lebih patut dst.

Itulah yang selama ini kita lakukan di Rumah Tiup, memelihara dan menghidupkan kembali saxophone2 bekas agar benda yang cantik itu bisa berperan lagi menyemarakkan dunia yang indah tiada tara ini. Jadi hanya saxophone yang sudah dalam kondisi prima dan siap pakai yang kemudian kita lepas, kita jual. Soal harga, tentu saja dibuat semurah mungkin agar bisa terjangkau oleh budget masing2 kita.

Satu hal yang paling penting dalam memutuskan membeli sebuah saxophone bekas, apapun mereknya, adalah…, jangan membeli tanpa mencobanya terlebih dahulu. COBA DULU…, BARU BELI! Gitu loh…

Nah, di Rumah Tiup kita bebas mencoba, silahkan ngetest. Kalau belum bisa memainkan…, ya ayo tak ajari. Gratis kok. Kalau suatu saat nanti saxophonenya ngadat, jangan khawatir…, bisa dibetulin kok. Dan kalau suatu saat nanti pengin ganti saxophone, tak perlu bingung…, bisa tukar tambah kok.

Wis jan, saxophone pancen…, enak tenaaan. Piye Jal?

Read more...


Ini tampang Kenny G sedang megang saxophone sopran. Banyak yang mengira bahwa alat musik yang ditiup oleh Kenny G itu adalah clarinet, bukan saxophone, soalnya bentuknya lurus mirip bentuk clarinet, tidak seperti umumnya saxophone yang berbentuk melengkung serupa pipa cangklong. 

Ya, saxophone jenis sopran memiliki panjang yang tidak atau belum melebihi panjang lengan kita, sehingga masih bisa ditangani tanpa perlu ditekuk, jadi cukup dimodel lurus saja. 

Lha kalau dilihat dari bentuk palm key serta table key nya, saxophone sopran yang dimainkan oleh Kenny G itu tergolong saxophone jadul, saxophone model lama. Mereknya entah apa, yang terang kalau sudah ditiup oleh Kenny G, suaranya wow..., merdu merayu. Gitu deh...

Read more...

The Girl From Ipanema..., Stan Getz, Bossanova, Carlos Jobim


Stan Getz adalah salah satu peniup saxophone tenor yang saya sukai. Album rekamannya yang bertajuk “The Girl From Ipanema” telah berperan serta mempopulerkan irama bossanova, irama khas musik Brasil. Dan Ipanema itu sendiri adalah nama suatu tempat di Rio de Janeiro.

Lagu “The Girl From Ipanema” dikarang oleh Antonio Carlos Jobim dan dibawakan Stan Getz sembari mengiringi penyanyi Astrud Gilberto.

Gitu deh…

Read more...

About This Blog

Blog untuk semua orang yang ingin belajar saxophone, biar semua orang tau kalau belajar saxophone itu mudah

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP